Sekilas tentang ilmu falak

1. Asal Mula Pemikiran Sullamun Nayyiroin

Sullamun Nayyiroin menggunakan sistem/ teori hasil pengamatan yang dilakukan oleh seorang Zij Sulthon (astronom pemerintah) yang bernama Ulugh Beyk as-Samarkand, ahli astronomi yang lahir di Salatin pada tahun 1393 Masehi dan meninggal di Iskandaria 1449 Masehi. Ia hidup pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, tepatnya pada masa kepemimpinan khalifah Al-Makmun. Pada masa kepemimpinannya, sang khalifah memerintahkan para ilmuan untuk mendirikan observatorium, salah satunya yaitu di daerah Samarkand yang dikepalai oleh Ulugh Beyk tersebut. Ulugh Beyk adalah seorang astronom yang pandai dan mengepalai penyelidikan-penyelidikan yang menelan biaya yang tidak sedikit. Ulugh Beyk merupakan keponakan dari cucu Hulago dari keluarga Timur Lenk, Hasan Al A’raj, Si Pincang. Pada tahun 1437 M, Ia telah berhasil membuat sebuah Zij berdasarkan observasi yang dilakukannya. Pengertian dari Zij itu sendiri adalah tabel keangkaan yang diterapkan kepada planet-planet untuk mengetahui ciri masing-masing, baik jalan gerakannya, kecepatan, kelambatan, kediaman dan geraknya kembali. Ia menamakannya Zij Ulugh Beyk. Tabel-tabel tersebut masih menggunakan model angka Jumali yang merupakan model angka yang biasa digunakan oleh para ulama hisab tempo dulu untuk menyajikan data astronomis benda-benda langit. Angka ini menggunakan huruf-huruf arab, yaitu:


Gambar 1. Model Angka Jumali

Sullamun Nayyiroin (Selamatnya Dua yang Bercahaya) adalah sebuah buku karangan Haji Muhammad Mansur Al-Batawie berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ulugh Beyk tersebut, yang sebelumnya telah ditalhis (dijelaskan) oleh orang tuanya sendiri yang bernama Abdul Hamid Bin Muhammad Damiri Al-Batawie dengan taqrir/ ketetapan dari Syeikh Abdurrahman bin Ahmad Al-Mishrie.



2. Riwayat Hidup Muhammad Mansur Al Batawie

Muhammad Mansur Al Batawie yang biasa disebut Guru Mansur dilahirkan di Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta tahun 1295 Hijriah/ 1878 Masehi. Beliau wafat pada tahun 1967 Masehi. Ayahnya bernama Kyai Haji Abdul Hamid bin Muhammad Damiri. Pada zaman Haji Hamid ini banyak pemuda-pemudi betawi yang belajar masalah-masalah agama kepadanya, termasuk Guru Mansur yang banyak belajar dan dididik langsung oleh ayahnya.

Sejak kecil Guru Mansur sudah mulai tertarik dengan ilmu hisab atau ilmu falak, disamping ilmu-ilmu agama lainnya. Sesudah ayahnya meninggal, Guru Mansur belajar dari kakak kandungnya Kyai Haji Mahbub dan kakak misannya Kyai Haji Tabrani. Guru Mansur juga pernah belajar kepada seseorang ulama dari Mester Cornelis bernama Haji Mujtaba bin Ahmad sebelum pergi ke Mekah pada usia 16 tahun dan belajar di sana selama empat tahun. Selama di Mekah ia berguru kepada sejumlah ulama, antara lain:

  • Syekh Mukhtar Atharid Al Bogori
  • Syekh Umar Bajunaid Al Hadrami
  • Syekh Ali Al Maliki
  • Syekh Said Al Yamani
  • Syekh Umar Sumbawa, dll.

Setibanya di kampung halaman, ia mulai membantu ayahnya mengajar di rumah. Bahkan ia sudah ditunjuk seabagai pengganti sewaktu-waktu ayahnya berhalangan. Selain mengajar di tempatnya, beliau juga mengajar di Madrasah Jam’iyyah Khoir, Pekojan pada tahun 1907 Masehi. Kemudian diangkat menjadi penasehat syar’i dalam organisasi Ijtimak-UI Khoiriyah. Pada tahun 1915, Guru Mansur diangkat menjadi penghulu daerah Penjaringan-Betawi dan pernah juga menjabat sebagai Rois Nahdatul Ulama cabang Betawi ketika zamannya Kyai Haji Hasyim Asy’ari.

Cita-cita dan pengalaman Guru Mansur dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama islam telah dibuktikannya dengan jalan berdakwah, mendidik, dan membina pemuda-pemudi harapan bangsa dan agama. Sebagai sasaran penunjang cita-cita tersebut, beliau mendirikan sekolah, madrasah, dan pesantren, serta majlis taklim.

Menurut informasi dari Kyai Haji Fatahillah (cucu Guru Mansur), tak ada ulama lain pada masanya yang menguasai ilmu falak selain Guru Mansur. Di samping berdakwah dengan lisan, beliau juga berdakwah dengan tulisan. Beberapa hasil karya tulisnya berkaitan dengan ilmu falak (astronomi islam) antara lain:

  • Sullamun Nayyiroin
  • Khulasatul Jawadil
  • Kaifiyatul Amal Ijtimak, Khusuf, wal Kusuf
  • Mizanul I’tidal
  • Jadwal Dawaa’irul Falakiyah
  • Majmu’ Arba’ Rasa’il Fii Mas’alatil Hilal
  • Rub’ul Mujayyab
  • Mukhtashor Ijtima’un Nayyiroin

3. Sullamun Nayyiroin Bermarkaz Di Jakarta

Secara istilah dijelaskan (Khazin:2005), bahwa pengertian Markaz adalah suatu tempat/ lokasi yang dijadikan pedoman dalam perhitungan. Dalam (Mansur:1925) dijelaskan bahwa data-data yang digunakan pada perhitungan awal bulan hijriyah tersebut memakai markaz Jakarta dengan data geografis 5o 19’ 12” – 6o 23’ 54” LS dan 106o 22’ 42” – 106o 58’ 18” BT. Dalam pengukuran waktu dunia, Sullamun Nayyiroin mengacu pada tempat yang bernama Jaza’irul Kholidat/ Kanarichi, suatu tempat di tengah lautan atlantik yang dijadikan titik 0 derajat dalam pengukuran bujur bumi tempo dulu. Ia berposisi pada 35o 11’ sebelah barat Greenwich. Dalam (Mansur:1925) dijelaskan pula bahwa antara Kanarichi dan Jakarta mempunyai selisih waktu 142o (1o= 4 menit). Jadi, total selisih waktu keduanya adalah 9 jam 28 menit. Untuk perumpamaan, ketika di Jakarta hari rabu pukul 16.00 WIB, maka di Kanarichi hari rabu pukul 06.22 waktu Kanarichi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: