Biografi Syekh Muhammad Muhadjirin Amsar Addary


Riwayat Hidup

Nama Lengkap : Muhammad Muhadjirin Amsar Addary
TTL : Jakarta (Kampung Baru Cakung), 10 November 1921
Wafat : Bekasi, 31 Januari 2003
Nama Ayah : H. Amsar
Nama Ibu : Hj. Zuhriah
Istri : Hj. Hannah Abdurrahman
Anak-anak : 1. Hj. Faiqoh Muhadjirin
2. H.Muhammad Ihsan Muhadjirin
3. H. Ahmad Zufar Muhadjirin (Almarhum)
4. Hj. Badi’ah Muhadjirin
5. Hj. Farhah Muhadjirin
6. Hj. Rufaida Muhadjirin
7. H.Dhiya Al Maqdisi Muhadjirin
8. H.Muhammad Aiz Muhadjirin

Pendidikan Syeikh Muhammad Muhadjirin Amsar Addary

Secara umum beliau belajar dari berpuluh-puluh guru dengan berbagai disiplin ilmu, baik semasa di Indonesia maupun ketika berada di Mekkah (tersusun dalam lampiran khusus).

Pendidikan formal : Daarul ‘Ulum Mekkah

Adapun guru-guru beliau dalam Ilmu Falak ialah :

Guru Muhammad Manshur bin Abdul Hamid
Salah satu murid Guru Muhammad Manshur bin Abdul Hamid (yang kami tidak ketahui namanya)
Guru Abdul Majid
Syeikh Muhammad Yasin Al Falaki
Beberapa ulama di tanah suci Mekkah yang tidak disebutkan namanya .

Kitab-kitab Ilmu Falak yang dipelajari antara lain ialah :

Matan Washilah Al Thullab
Risalah Rub’ul Mujayyab
Risalah Mulakhos
Sulam Al Niroin
Ijtima dan Gerhana

Perjalanan Pelaksanaan Ru’yah Dari Waktu ke Waktu

Pelaksanaan ru’yah di Cakung dimulai sejak tahun 1936 yang dipimpin oleh Syeikh Muhammad Muhadjirin. Mulai tahun 1947 pelaksanaan ru’yah diteruskan oleh murid-murid beliau yang tidak lain merupakan adik-adik sepupu, yaitu KH.Abdul Hamid, KH.Abdul Halim, KH. Abdullah Azhari, KH. Abdul Salam.Hal ini disebabkan Syeikh Muhammad Muhadjirin telah memutuskan untuk berdiam di Mekkah guna menuntut ilmu.
Pada awalnya pelaksanaan ru’yah di Cakung hanya dilaksanakan sebanyak 6 kali setiap tahunnya, mulai bulan Rajab hingga Dzulhijjah. Namun apabila dianggap perlu pelaksanaan ru’yah pernah dilakukan setiap bulannya selama 7 tahun berturut-turut.
Pada tahun 1950, penerus Syeikh Muhammad Muhadjirin, yakni KH. Abdul Hamid, KH.Abdullah Azhari , dan KH. Abdul Salam berhasil melihat hilal awal bulan Syawal dengan ketinggian 2 derajat. Hasil ru’yah tersebut disyahkan oleh Pengadilan Agama Bekasi untuk “diitsbat” setelah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap ke 3 peru’yah tersebut.
Pada tahun 1958, KH. Abdul Hamid, KH.Abdul Halim, dan KH. Abdul Salam berhasil melihat hilal awal bulan Dzulhijjah pada ketinggian 2,25 derajat. Hasil ru’yah tersebut disyahkan oleh Pengadilan Agama Jawa Barat. Berdasarkan hal tersebut KH. Zuber memasukan kejadian tersebut ke dalam buku karangannya yang berjudul “Al Khulashah Al Wafiyah”.
Pada tahun 1960, KH. Abdul Hamid dan kawan-kawan dengan disaksikan oleh KH. Hasbiallah dan KH. Sobri yang merupakan utusan dari Pengadilan Agama Jawa Barat serta KH. Asli Junaidi, berhasil melihat hilal dengan ketinggian 4 derajat. Pada saat itu terjadi kejadian yang luar biasa, dimana terjadi perubahan cuaca yang sangat cepat dari mendung tiba-tiba menjadi terang sehingga ru’yah dapat dilakukan.
Pada tahun 1991, delegasi ulama Malaysia yang terdiri dari ahli Fiqih dan ahli Hisab yang dipimpin oleh Prof. Dr.H. Abdul Hamid Abdul Majid berkunjung ke Indonesia untuk memperoleh penjelasan tentang pelaksanaan ru’yah hilal di Indonesia. Pengadilan Agama Bekasi memfasilitasi pertemuan antara delegasi Malaysia tersebut dengan ulama Jakarta Timur dan Bekasi, bertempat di Masjid Al Makmur, Klender. Menurut delegasi Malaysia tersebut, selama ini dalam menetapkan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha mereka selalu mengikuti Mekkah. Di Malaysia sendiri sebenarnya ada 28 lokasi ru’yah, namun baru berhasil 2 kali dengan ketinggian 8 derajat. Setelah berakhirnya pertemuan tersebut, pimpinan delegasi Malaysia tersebut menyatakan untuk mengikuti Indonesia dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal dan 10 Dzulhijjah. ( KH. Ma’ruf Amin : 1995, hal 76-78.)
Dalam kitab Misbah Al Zhulam Syarah Bulugh Al Maram, karangan Syeikh Muhammad Muhadjirin Amsar Addary, juz ke 3 halaman 187 dan 188 dikatakan bahwa : Hilal mungkin saja terlihat tanpa harus mencapai ketinggian 7 derajat atau lebih. Hal ini pernah terjadi di Mekkah saat beliau berada di kota tersebut.
Saat ini pelaksanaan ru’yah hilal masih terus berlanjut sesuai dengan pedoman serta petunjuk yang telah diajarkan oleh Syeikh Muhammad Muhadjirin Amsar Addary. Diantara penerusnya adalah KH. Ahmad Syafi’I ,Lc putra KH. Abdul Hamid serta salah seorang koleganya yang bernama KH. Yazid. Saat ini mereka berdua tetap aktif melakukan ru’yah hilal serta membimbing murid-muridnya di Cakung Jakarta Timur.

Perjalanan Hidup KH. Mohammad Muhadjirin Amsar Addary

“ Segala puji bagi Allah SWT atas segala sesuatu yang Ia berikan kepada ku, meliputi berbagai macam nikmat. Dan aku bersyukur kepada Allah SWT dengan memuji-Nya sebagai sebuah pujian dari seorang hamba yang ikhlas. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada “Sayyid sanad” yang agung yakni Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarganya, shahabatnya, dan para pengikutnya.

Dengan segala kesungguhan hati, diantara nikmat Allah SWT yang tercurah kepadaku adalah diberikannya aku rezeki sehingga aku dapat melakukan perjalanan guna menuntut ilmu ke “Tanah Haram”, suatu negeri yang aman sentosa dimana terdapat makam kekasih Allah SWT, yakni makam Rosululloh SAW.

Ketika di bulan Rajab tahun 1366 Hijriyah (bulan Juni 1947) aku sedang tinggal / muqim di Kampung Muara (Cipinang Muara) untuk menuntut ilmu. Pada waktu itu kondisi negara Indonesia masih berkecamuk perang yang sangat dahsyat melawan penjajah Belanda (Agresi Militer Belanda I & II). Saat itu sudah bulat tekad ku untuk berangkat ke “Tanah Haram” suatu negeri yang aman sentosa untuk menuntut ilmu serta melaksanakan ibadah haji dan berziarah ke makam Rosululloh SAW. Namun demikian banyak pihak yang menyayangkan dan berupaya membatalkan tekad ku tersebut dengan dalih bahwa perjalanan tersebut tidak lebih merupakan propaganda Pemerintah Belanda. Aku tidak peduli terhadap anggapan dan cibiran masyarakat pada saat itu, karena aku berpedoman bahwa suatu perbuatan itu tergantung pada niatnya. Aku hendak berangkat meninggalkan Indonesia bukan untuk melarikan diri dari perjuangan kemerdekaan sebagaimana yang diharapkan oleh Penjajah Belanda , namun demi untuk menuntut ilmu yang justru akan sangat berguna di kemudian hari.

Pada tanggal 4 Dzul Qo’dah tahun 1366 Hijriyah bertepatan dengan bulan Agustus tahun 1947 Masehi, aku berangkat dari Indonesia dengan menggunakan kapal laut menyeberangi Samudera Hindia menuju Jeddah. Aku sampai di Jeddah pada akhir bulan Dzul Qo’dah dan aku menetap di sana. Pada satu kesempatan aku berziarah ke makam yang diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai makam “Ummina” Hawa. Selanjutnya dari Jeddah aku melaksanakan ibadah umroh menuju Mekkah, dan tiba di kota Mekkah pada tengah malam di bulan Dzul Hijjah tahun 1366 Hijriyah bertepatan dengan bulan September 1947.

Setelah aku selesai melaksanakan ibadah umroh aku pun tidak lupa untuk menziarahi tempat-tempat bersejarah di kota Mekkah. Aku bercita-cita di dalam hati untuk dapat menetap di dua kota yang sangat mulia, yakni Mekkah dan Madinah. Namun cita-cita tersebut mendapat tantangan yang sangat berat, yaitu kegelisahan dan kerinduan hati ku akan kampung halamanku yang terus mendesak ku untuk membatalkan cita-cita yang telah kuimpikan sejak lama, yakni menetap di Mekkah dan Madinah.

Dalam suasana hati yang tiada menentu, Alhamdulillah Allah memberikan hidayahNya kepadaku sehingga kegundahan hati dapat teratasi, dan aku mengambil keputusan untuk tetap tinggal dan menyelesaikan ibadah hajiku, walaupun bekal yang ku bawa dari tanah air semakin berkurang.

Aku menetap di kota Mekkah dan Madinah dengan tujuan untuk menimba ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. Untuk mewujudkan tujuanku tersebut aku tinggal di rumah Syaikh Abdul Ghoni Jamal. Di tempat tersebut aku mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan, dimana begitu besarnya perhatian yang aku dapat dari beliau. Setelah beberapa lama aku menetap di rumah Syaikh Abdul Ghoni Jamal, maka pada pertengahan tahun aku pindah ke Asrama Jailani yang berada di sisi dalam “Mudda’i”. Pada waktu aku tinggal di sana, pertama kali aku belajar kepada Syaikh Muhammad Ahyad yang menggantikan Syaikh Muchtar Atthorid Al Jawi di Masjid Al Haram. Kitab-kitab yang aku baca dan pelajari dari Syaikh Muhammad Ahyad adalah : (1) Fathul Wahab, (2) Al Iqna Fi Hilli Al Fazhi Abi Syuja’, (3) Al Muhalla ‘Ala Al Qolyubi, (4) Riyadh Ash sholihin, (5) Minhaj Al ‘Abidin sebuah kitab Tasawuf, (6) ‘Umdah Al Abror sebuah kitab Mantiq, (7) dan Fath Al Qodir Fi Nusuk Al Ajir.

Guru yang kedua adalah Syaikh Hasan Muhammad Al Masyath. Dari beliau aku mempelajari beberapa kitab, antara lain ialah : Bagian akhir Kitab Shahih Muslim, dan bagian awal Kitab Shahih Bukhori di Masjid Al Haram.

Guru yang ketiga adalah Syaikh Zaini Bawean. Dari beliau aku membaca dan mempelajari Kitab Ihya Al ‘Ulumuddin. Pada saat itu aku belajar dengan beliau di rumah kediamannya.

Guru yang keempat adalah Syaikh Muhammad Ali bin Husain Al Maliki. Beliau merupakan seorang Guru Besar di kota Mekkah bahkan sampai mencakup wilayah Hijaz. Adapun mazhab yang beliau yakini adalah Mazhab Malik meskipun dalam beberapa kesempatan terkadang beliau menyesuaikan ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam Mazhab Malik dengan ketentuan-ketentuan yang berada di dalam mazhab-mazhab lainnya dari Mazhab Fuqoha Al Amshor. Dari beliau aku mempelajari Kitab Tuhfah yang dilaksanakan di kediamannya.

Guru yang kelima adalah Syaikh Mukhtar Ampetan. Di rumahnya aku mempelajari kitab Shahih Bukhori, dan Al Itqon Fi ‘Ulumi Al Qur’an.

Guru yang keenam adalah Syaikh Muhammad Al ‘Arobi Attubbani Al Sutoyfi Al Jazairi. Dari beliau aku mendengar serta mempelajari beberapa kitab di waktu yang berbeda-beda. Waktu yang pertama adalah setelah Sholat Shubuh, dimana aku mempelajari kitab Al Asymuni. Setelah kitab tersebut tamat aku baca, maka aku lanjutkan dengan membaca kitab Mughni Al Labib dan Tafsir Ibnu Katsir.

Waktu yang kedua adalah setelah Sholat ‘Ashar. Aku membaca dan mempelajari kitab Shahih Bukhori hingga tamat. Setelah itu dilanjutkan dengan mempelajari kitab Sunan Ibnu Majah. Waktu yang ketiga adalah setelah Sholat Maghrib. Pada waktu itu aku mempelajari kitab Attarghib Wa Attarhib, yang setelah tamat dilanjutkan dengan mempelajari kitab Riyadh Ash sholihin.

Guru yang ketujuh adalah Syaikh Said ‘Alawi Abbas Al Maliki. Aku belajar dengan beliau di rumahnya di daerah Bab Assalam. Ada beberapa kitab yang aku pelajari darinya, yakni : (1) Mughni Al Labib (2) Jauhar Al Maknun (3) Al Hikam Li Ibni Athoilah Al Sakandari sebuah kitab tasawuf (4) dan sebuah kitab kecil yang merupakan karangannya yang berjudul Al Aqdu Al Ma’alam Fi Aksami Al Wahyi Al Mu’adham.

Guru yang kedelapan adalah Syaikh Ibrohim Fathoni. Melalui beliau aku mempelajari kitab Tafsir Al Jalalain yang dilaksanakan di Masjid Al Haram pada waktu malam bulan Ramadhan.

Guru yang kesembilan adalah Syaikh Muhammad Amin Al Kutbi. Melalui beliau aku mempelajari kitab Shahih Bukhori, Minhaj Dhawi Nadhor Fi Alfiat Al ‘Ilmil Atsar, Jam’ul Jawami’ (Kitab Ushul). Selain kitab-kitab tersebut, yang paling banyak aku pelajari dari beliau adalah kitab Fiqh Al Hanafi yang dibaca di Masjid Al Haram.

Guru yang kesepuluh adalah Syaikh Ismail Fathoni. Di rumahnya aku menghadiri pembacaan kitab Hasyiah Ibnu ‘Aqil ‘Ala Alfiah. Di waktu itu, bersamaku ikut sekelompok syaikh dengan kitab Hasyiah Al Tsaniyah Fi Al Maqulat Al Asyar, dan sebagian syaikh yang lain ada yang menggunakan kitab Al Bulbudi, sebuah kitab yang sangat sarat manfaat apabila hendak mempelajari Maqulat Al Asyar.

Demikianlah sebagian perjalanan belajar ku dalam menuntut ilmu sebelum aku masuk ke Darul Ulum Addiniyah.

Setelah aku tinggal selama 2 tahun, aku berfikir apakah akan kembali lagi ke tanah air atau terus menetap di sana. Lalu sampailah pada keputusan ku untuk tetap tinggal di sana dan dengan langkah pasti aku masuk ke Darul Ulum Addiniyah pada permulaan bulan Muharam tahun 1369 Hijriyah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 1950. Di sekolah Darul Ulum inilah aku dapat mempelajari berbagai macam ilmu pengetahun guna melengkapi pengetahuan yang sudah aku miliki.

Dari sekian banyak para guru / syaikh di Darul Ulum Addiniyah, yang paling berperan penting bagi perkembangan ilmu pengetahuanku adalah Syaikh Ahmad Mansyuri, yakni mudir Darul Ulum Addiniyah, dan Syaikh Muhammad Yasin, yang merupakan sebagai wakilnya. Melalui mereka berdua aku “bermulazamah” selama kurang lebih 2 tahun. Adapun kitab-kitab yang dipergunakan ( Muqorror) di Darul Ulum Addiniyah diantaranya adalah :

1. Ilmu nahwu terdiri atas kitab-kitab : Ibnu Aqil ‘Ala Alfiyah, Mukhtashor Ma’ani ‘Ala Altalkhish.

2. Ilmu Hadits terdiri atas kitab-kitab : Muwattho’ Malik, Sunan Abi Daud.

3. Ilmu Fiqih menggunakan kitab : AlMuhalla ‘Ala AlQolyubi.

4. Ilmu Ushul menggunakan kitab : Jam’ul Jawami.

5. Ilmu Tafsir menggunakan kitab : Ibnu Katsir.

Dan masih banyak lagi pelajaran-pelajaran lain yang aku pelajari di sana, seperti “Al Tathbiq Baina Almazahib Almudawwanah”. Yaitu suatu pelajaran yang mempelajari tentang persesuaian diantara beberapa mazhab. Melalui pelajaran tersebut aku mulai mengenal mazhab-mazhab melalui jalan “tatbiq” (persesuaian) pada kitab Sunan Abi Daud.

Rasa haus akan ilmu pengetahuan membuatku tetap saja merasa ada ilmu yang belum aku pahami dengan baik dan benar, sehingga aku memutuskan untuk belajar lagi di luar jam sekolah. Salah satu ilmu yang aku pelajari di luar jam sekolah adalah Ilmu Faroid, baik secara teori maupun praktek, dimana aku belajar kepada temanku yang bernama Abdul Hamid Amin Banjar, dan sebaliknya ia pun belajar dari ku akan ilmu pengetahuan yang lainnya, yakni Ilmu Falak, khususnya mengenai persoalan Ijtima’ dan Gerhana.

Di Darul Ulum Addiniyah, ilmu-ilmu yang paling banyak aku pelajari adalah Insya, Tarikh, dan Adabul ‘Aroby. Selain itu pula aku mempelajari metodologi pengajaran secara modern yang terus mengalami pembaharuan dan perkembangan.

Akhirnya, di penghujung bulan Zul Qoidah tahun 1370 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 28 Agustus 1951, aku berhasil menyelesaikan pendidikan di Darul Ulum Addiniyah setelah melewati ujian yang begitu sulit. Pada saat itu, dengan rahmat Allah SWT, aku berhasil meraih nilai “Jayyid” dan berada pada posisi teratas diantara teman-teman seangkatanku . Kemudian tidak lama berselang, tepatnya di bulan Muharram tahun 1371 Hijriyah aku diminta untuk mengajar di sekolah tersebut. Pada saat aku telah menjadi pengajar, banyak pelajar yang memperhatikan serta menantikan kehadiranku di kelas-kelas. Namun demikian, meskipun aku telah berhasil lulus dengan nilai terbaik di sekolah tersebut, tetap saja aku senantiasa “bermulazamah” kepada Syaikh Yasin di rumahnya maupun di sekolah sehingga aku banyak membaca dan belajar darinya. Pada saat aku “bermulazamah” dengan beliau ada beberapa kitab yang paling aku sukai, diantaranya ialah Muwattho Malik, Sunan Abu Daud, Sunan Tirmizi, Nasa’I, Ibnu Majah, Shahih Bukhori dan Muslim dimana semuanya berhasil aku tamatkan.

Khusus untuk kitab Muwattho Malik dan Sunan Abi Daud maka metode pembelajaran yang aku pergunakan adalah dengan membacanya secara “tahqiq dan tatbiq” dengan memperhatikan kaidah-kaidah Ushul Hadits dan Ushul Fiqih disertai dengan Qowa’id Al Fiqh atas mazhab yang berlaku, seperti Mazhab Syafi’i, Malik, Abi Hanifah dan Ahmad Rodhiallahuanhum. Di samping mazhab-mazhab tersebut, aku juga menyertakan mazhab-mazhab lainnya untuk aku pelajari sehingga aku dapat mengetahui jalan “istidlal dan istinbat”. Semoga Allah SWT memberikan pahala yang sebaik-baiknya kepada mereka semua. Amin.

Di dalam waktu yang hampir bersamaan, aku juga mempelajari beberapa kitab lainnya, diantaranya adalah Al Maqulat Alasyr, Fanni Alwadho, dan ‘Ulumu Alisnad. Setelah selesai mempelajari kitab-kitab tersebut, aku diberikan ijazah oleh Saidy Assyaikh Alimuddin Muhammad Yasin yang dinamakan “Maslak Aljala Fi Asanidi Assyaikh Muhammad Ali dan Mitfah Alwajdani Min Asanidi Assyaikh Umar Hamdan”. Kedua ijazah tersebut merupakan karangan guru kami, sebagaimana telah memberikan ijazah kepadaku oleh “Awail Alsunbulah”. Selain kedua guru ku tersebut, masih ada guru ku yang lain yang juga memberikan ijazah kepadaku, yakni Syaikh Muhammad Abdul Baqi. Beliau memberikan ijazah kepadaku secara umum dan khusus setelah aku selesai membaca “Almanahili Alsilsilah Fi Alahaditsi AlMusalsalah” baik secara “fi’liyah maupun qouliyah”.

Secara singkat aku katakan bahwa tidak ada sesuatu yang aku peroleh melainkan aku mengambil dari guru-guruku dengan mencontoh perbuatannya, baik secara perilaku maupun ucapannya. Adapun tentang “Almusalsal Bi Alawwaliyah Alhaqiqiyah” maka aku memperolehnya dari Fadilah Assayyid Muhammad Mustofa Alsingiti. Disamping itu, aku juga mempelajari beberapa kitab lainnya kepada beliau. Diantaranya adalah fiqih mazhab Malik, seperti kitab “Almudawwanah Alkubro”, kemudian fiqih mazhab Hanafi, seperti kitab “Almughni Liabi Qudamah”, dan fiqih Alahnaf, seperti kitab “Durru Almukhtar Li Ibni Abidin”.

Itulah beberapa anugerah yang aku peroleh dari para ulama Mekkah selain anugerah-anugerah ilmu pengetahuan dan pengalaman yang tidak ternilai harganya.

Untuk kota Madinah, maka ulama-ulama yang sangat besar pengaruhnya terhadap perjalanan belajarku di kota tersebut adalah Syaikh Muhammad Amin Alsingiti, Syaikh Abdul Rahman Alafriqy, serta beberapa guru-guru lainnya yang berada di kota tersebut. Selama di kota Madinah aku hampir setiap saat mengunjungi perpustakaan yang bernama “Maktabah Syaikh Alislam ‘Arif Hakat”. Di perpustakaan tersebut tersedia berbagai macam judul buku mengenai ilmu agama maupun “ilmu alat”. Aku senantiasa berdoa kepada Allah SWT semoga seluruh ilmu yang aku peroleh dapat diamalkan dan disebarluaskan. Dengan izin Allah SWT pula lah, aku diberi kesempatan untuk mengamalkan ilmu pengetahuanku di kota Mekkah.

Beberapa waktu kemudian, sampailah surat dari Ibu ku yang isinya tidak lain adalah untuk memintaku kembali ke tanah air Indonesia. Sebelum aku menjawab surat Ibu ku tersebut, terlebih dahulu aku memohon petunjuk kepada Allah SWT dengan melakukan sholat Istikhoroh di kota Madinah. Dalam sholat tersebut, Allah SWT memberikan petunjuk-Nya agar aku secepatnya memenuhi panggilan Ibu ku tersebut. Dengan mengucap Alhamdulillah akhirnya aku tiba kembali ke tanah air yang telah begitu lama ku tinggalkan dengan selamat, bertepatan dengan hari Kamis 6 Agustus 1955 / 19 Shafar 1375 H. Puji bagi Allah SWT yang mana aku masih dapat bertemu dengan kedua orangtua ku.

PENUTUP

Inilah apa yang terlintas dalam hati dan benakku yang aku kumpulkan sebagai intisari dari perjalanan hidupku di tanah haram, Mekkah dan Madinah. Maha Besar Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya sehingga aku dapat mengamalkan ilmu yang telah aku peroleh.

Bekasi, 14 Juli 1972 M
2 Jumadil Awal 1392 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: