Money Game Marak Lagi

Belakangan disinyalir money game dan skema piramid marak lagi. Salah satu penyebabnya adalah situasi ekonomi yang masih sulit. Manakala situasi ekonomi sulit, maka di belahan bumi manapun, money game dan skema piramid pasti marak. Selain itu, masalah belum adanya UU Anti Piramid juga dianggap sebagai faktor penyebab mengapa para pelaku money game maupun skema piramid serasa bebas melakukan aksinya. Untuk membedah masalah tersebut, Edy Zaqeus dari INFO APLI kembali mewawancarai Ir. Widarto Wirawan, salah satu pakar money game/skema piramid yang juga menjabat Biro Humas APLI. Berikut petikan wawancaranya:

Apa definisi Anda tentang money game dan skema piramid?
Saya coba bedakan. Kalau money game itu bisa dibilang semacam penggandaan uang. Contohnya kasus QSAR dan Banyumas Mulia Abadi (BMA). Kemudian Probest itu semilah; ada money game-nya, ada piramidnya. Karena, dia menjanjikan uang bisa meningkat delapan kali lipat dalam waktu 15 bulan. Kalau piramid itu adalah suatu proses di mana seseorang dianjurkan untuk merekrut supaya mendapat penghasilan besar dari rekrutnya. Bukan hasil dari penjualan produk. Contoh, arisan berantai, waktu itu Yosihiro, Pentagono yang pernah ramai, dan Goldquest (sekarang Questnet: red).

Bagi awam, bagaimana cara mengenali money game?
Rasanya, saat ini di Indonesia banyak orang yang tidak bisa membedakan antara iming-iming yang terlalu muluk dengan bisnis yang riil. Sebab, money game itu pasti menjanjikan sesuatu hasil yang aneh, tidak masuk akal. Contoh paling mudah, BMA itu menjanjikan investasi, beli satu paket produk seharga Rp1,5 juta, dalam waktu 21 hari dapat bonus Rp2,5 juta. Artinya, dalam waktu 21 hari bunganya 60 persen. Berarti, setahun berapa itu? Itu nggak logis. Kemudian QSAR dan banyak perusahaan-perusahaan sejenis. Mereka menjanjikan keuntungan pasti 10-15 persen per bulan. Berarti per tahun 120-180 persen. Bisnis apa yang mampu memberikan keuntungan semacam itu secara fixed? Itu jelas tidak ada. Jadi, kalau orang terkecoh, berarti dia kena.

Apa pembanding bagi logis tidaknya bisnis money game ini?
Saya kira, piranti investasi yang paling wajar atau umum ada tiga. Pertama, deposito bunganya 6-8 persen per tahun. Kedua, obligasi, itu memberikan keuntungan sekitar 10-14 persen per tahun. Terakhir, saham. Saham pun menjanjikan keuntungan lebih kurang 12-50 persen per tahun, dengan satu hukum dasar high risk high return, low risk low return. Artinya, kalau kita bermain saham karena berharap keuntungan 50 persen, kita juga punya risiko rugi. Jadi, kalau sudah begitu ada orang menjanjikan keuntungan 120-180 persen, apalagi sampai 800 persen per tahun, saya kira sudah pasti money game.

Dari sisi perangkat hukum?
Kalau investasi jelas ada ya, misalnya Bapepam sebagi badan pengawas. Kalau obligasi juga ada izinnya.
Deposito juga. Tapi kalau money game itu kelihatannya tidak ada. bahkan, cenderung ilegal.

Kalau cara mengenali skema piramid?
Sebetulnya, kalau dibilang skema piramid itu menipu, itu sulit, karena tidak ada undang-undangnya. Dibilang menipu ndak juga, karena aturan mainnya juga jelas. Kalau Anda rekrut Anda dapat duit, kalau Anda tidak rekrut Anda tidak dapat duit. Nah, misalnya Goldquest, di beberapa tempat sampai di-banned. Karena, pemerintah melihat korbannya banyak. Tapi kalau orang ditipu Goldquest, itu ditipu di mananya. Cuma kalau kita ditanya, ciri khas piramid apa, jelas. Satu, biaya investasi atau biaya pendaftarannya tinggi.

Kalau di MLM yang normal, biaya pendaftaran itu kan cuma untuk mendapatkan starter kit, Rp100 ribuan. Tapi INFO APLI Edisi XXXVI/April-Juni 2007 5 kalau di piramid, biasanya jutaan. Kedua, penghasilanitu terutama dari rekrutmen, maka biasanya tidak ada tutup poin. Ketiga, barang itu relatif tidak ada. Kalau
pun ada, biasanya kamuflase. Contoh, Yusihiro, sabunnya murah, dibungkus pakai kertas mas, lalu dijual ratusan ribu.

Kadang-kadang, di MLM yang benar pun bisa dibuat piramid. Misalnya, orang diajak bergabung awal
dengan biaya investasi yang tinggi untuk ambil posisi. Misalnya, biaya normalnya Rp200 ribu untuk jadi member, kemudian dirayu untuk langsung belanja Rp5 juta untuk posisi Manajer. Kemudian, ajak 2-3 orang Manajer, langsung bisa jadi Direktur. Jadi penghasilanutama dari rekrut dan biaya yang tinggi.

Skema piramid prinsipnya cari penghasilan dari rekrut orang. Jika dimainkan di semua bidang, prinsip ini pasti merugikan pihak lain. Jadi, persoalannya mungkin bukan pada besaran uang, tapi pada cara mendapatkan penghasilannya. Pendapat Anda?
Itu memang salah satu indikator piramid. Piramid itu penghasilan utamanya memang dari rekrut. Cuma
dari rekrut itu, kalau piramid yang kecil-kecil itu saya ndak pernah ketemu, lho! Yang Rp100 ribuan…? MLM pulsa itu masuk piramid ndak ya…? Penghasilan utamanya dari rekrut, itu benar… Rp100 ribu untuk gabung, dia dapat fasilitas untuk mentransfer pulsanya dari profider yang satu ke profider yang lain. Jadi, dia bisa jualan pulsa. V-Net itu dapat SIUPL, walaupun masuk APLI ndakboleh. Karena, menurut APLI penghasilan utamanya dari rekrut.

Kalau skema sama, produk sama, tapi nominal uang pendaftaran lebih tinggi?
Di situ harga menjadi tidak wajar. Kalau beli fasilitas Rp100 ribu, itu worth tidak. Kalau fasilitas itu worth dengan Rp100 ribu, maka orang memang beli fasilitas. Kalau kita beli membership golf itu jutaan lho, tapi itu worth, bernilai bagi membernya. Kalau misalnya fasilitas member MLM pulsa itu dijual Rp1 juta sementara pulsa yang didapat hanya Rp50-100 ribu, maka dia sudah masuk kategori money game. Jadi, lihat nilainya, bisa dianggap wajar atau kurang wajar.

Bagaimana seharusnya masyarakat bersikap terhadap money game dan skema piramid ini?
Gara-gara money game ini marak sekali, orang menyamaratakan money game dengan MLM. Akibatnya,
citra MLM jelek. Kalau dengar MLM orang sudah alergi. Kalau kita lihat secara objektif, dengan adanya MLM ini banyak orang bisa dididik dengan baik. Satu, jiwa wiraswastanya. Orang bisa dididik memiliki jiwa bisnis. Lalu, MLM juga melatih orang supaya bisa menjual, merekrut, dan itu suatu pendidikan yang menurut saya sangat bagus. Sekolah untuk jadi pramuniaga itu mahal lho, jutaan….

Juga sikap mental. Orang di MLM dididik bersikap positif, bagaimana menghadapi penolakan dan sanggahan, bagaimana berbesar hati, punya mental baja, dan pantang menyerah. Kita lihat banyak leader terbentuk, yang dulunya nothing jadi something. Pemulung, pengamen, pegawai rendahan, setelah ikut MLM bisa punya posisi bagus dan pendapatan sampai puluhan juta.

Jadi, MLM-nya bagus. Tapi, karena ada piramid dan money game—yang menyebabkan MLM dapat citra jelek—orang jadi alergi. Apalagi, dalam MLM yang baik kadang-kadang ada orang yang membuat sistem dalam sistem. Sehingga, orang disuruh beli posisi, suruhbergabung langsung Manager, rekrut Manager jadi Direktur. Akhirnya, mereka menciptakan paket-paket besar, mengejar uangnya tanpa mengerti manfaat produk, dan tidak tahu cara menjual. Kalau sudah begitu, orang tidak diajari training produk. Orang diajari rekrut orang lain dengan iming-iming hasil besar.

Prinsip bisnis money game dan skema piramid ini bisa dimasukkan ke bisnis apa saja. Bukankah ini akan semakin mengancam
masyarakat?
Di Indonesia, mungkin juga di dunia, piramid ataupun money game ini marak kalau keadannya lagi susah. Kalau kondisi susah, cari duit juga susah. Cari yang halalsusah, maka terpaksa banyak yang cari jalan pintas. Sehingga, kadang-kadang lupa bahwa makin besarhasilnya makin besar pula risikonya. BMA itu marak setelah krisis ekonomi. Ketika krisis, dollar AS dari Rp2.400 jadi Rp15.000, dan orang Indonesia tiba-tiba jadi miskin, maka money game itu marak. Tapi, kalau ekonomi lagi baik, money game tidak marak. Sekarang ini, sejak BBM naik Oktober 2005, sektor riil kita hancur, daya beli turun, banyak orangjadi tambah miskin. Saat ini, menurut saya,menciptakan situasi yang sangat subur bagi tumbuhnya money game dan skema piramid baru.

UU Anti Piramid belum ada, masyarakat harusnya waspada. Bagaimana dengan peran media massa?
UU itu juga jadi masalah utama. Sementara, cara mengedukasi masyarakat yang paling mudah adalah lewat media massa. Makanya, peran media massa sangat diharapkan. Cuma, apakah media tertarik mengangkat masalah ini untuk mengedukasimasyarakat? Kalau isinya kurang sensasional, itu tidak laku bagi media massa. Itu sebabnya, APLI tertarik mengadakan seminar mengenai topik ini. Sementara ini, masih banyak wartawan yang belum tahu bagaimana cara mengenali money game dan skema piramid.

Dalam seminar dengan wartawan nantinya, kita akan rangkul Dirjen Perdagangan untuk memberikan penjelasan mengenai SK Menteri Perdagangan tentang SIUPL. Mudah-mudahan banyak wartawan yang datang. Mudah-mudahan pula ini bukan yang terakhir, tapi bisa diselenggarakan secara rutin. Sebab, jumlah wartawan itu ribuan, sementara acara nanti hanya mampu menampung 30-50 wartawan.

Kalau ada yang bertanya, apakah perusahaan MLM yang tidak punya SIUPL akan ditindak?
Kalau acuannya SK Menteri, itu sanksinya tindak pidana. Tetapi, saya tidak tahu, SK Menteri itu kok bilang tindak pidana. Karena, kalau itu tindak pidana, polisi boleh menangkap. Apakah polisi boleh menangkap berdasarkan SK Menteri. Rasanya kok tidak ya ha ha ha…[ez]

sumber : info apli XXXVI april-juni 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: