“Jangan Tunggu Meledak ”

Berita copy paste dari Banjarmasin Post

“Jangan Tunggu Meledak ”
Selasa, 24 November 2009 | 01:00 WITA

HARI-HARI terakhir, tak ada topik yang paling menarik bagi warga Kalimantan Selatan selain Lihan. Di mana-mana dan nyaris pada tiap kesempatan, orang-orang ramai memperbincangkan sosok pengusaha intan dari Dusun Batung Desa Cindaialus, Martapura, Kabupaten Banjar tersebut.

Mulai dari penyebab macetnya pembayaran fee bulanan kepada investor sejak Agustus lalu, misteri keberadaannya setelah menghilang pada Senin (9/11) atau pada hari pertama pencairan sebagian kecil dana yang ditanamkan pemodal pada bisnis investasi yang dikelolanya. Lalu sampai kapan Lihan bersembunyi dan menyuruh orang-orangnya melayani pemilik modal maupun kolektor yang merupakan perpanjangan tangannya sendiri, yang tak henti mendatangi kediamannya demi meminta kembali uang mereka, hingga apa yang terjadi pada akhirnya.

Sejak mulai dikenal pada 2003, tabir pria kelahiran 1974 tersebut memang tak sepenuhnya tersingkap. Meski berikutnya profil maupun perjalanan hidup dan usahanya ramai-ramai ditampilkan oleh berbagai media baik lokal maupun nasional, tak juga diketahui pasti siapa sejatinya Lihan.

Yang diketahui publik hanya sebatas dia bungsu dari dua bersaudara anak pasangan pendulang intan, punya seorang istri dan dua anak yang masih SD, sempat mengajar di Pesantren Darul Hijrah Martapura. Lantas mulai menekuni jual beli intan dan kemudian menjelma menjadi pengusaha besar yang dermawan dengan aset miliaran dari bisnis investasi yang dikelolanya.

Pada tahap berikutnya, figur Lihan kian tenar bahkan sampai ke luar negeri. Gara-garanya dia membeli intan seharga Rp 1 miliar dari pendulang intan tradisional di Kabupaten Banjar pada 2007. Semua orang memercayai transaksi intan yang diberi nama Putri Malu tersebut, kendati tak ada yang menyaksikan jual beli itu. Orang-orang juga percaya kala Lihan memperkirakan harga jual kembali si Putri Malu minimal Rp 3 miliar.

Dan tanpa disadari, intan yang masih mentah tersebut menjadi tiket Lihan masuk ke kalangan atas. Artis, pejabat maupun orang hebat lainnya yang datang ke Kalsel, selalu penasaran melihat sendiri si Putri Malu.

Seiring itu, Lihan melanjutkan kedermawanannya. Nyaris tak ada proposal permohonan bantuan yang dialamatkan ke rumahnya yang ditolak atau tidak disetujui. Yang paling fenomenal ketika pemerintah kebingungan mencari dana untuk biaya perawatan rumah peninggalan mendiang Presiden RI, Soekarno di Blitar, Jawa Timur, hingga terbersit untuk menjualnya, Lihan dengan enteng menggelontorkan Rp 3 miliar.

Semua itu membuat orang-orang yang sebelumnya meragukan bisnis investasi ala Lihan, tenggelam dan tak terdengar lagi suaranya. Sebaliknya, orang-orang yang menyetorkan dana terus bertambah. Tak peduli bagaimana cara mendapatkan modal awal itu, semisal menggandaikan SK PNS, yang penting pada bulan berikutnya sudah menerima fee sebesar 10 persen dari modal yang ditanamkan.

Bagi mereka tak penting meneliti lebih jauh apakah sejumlah unit bisnis Lihan seperti Rumah Makan Ayam Pakuwon di Banjarbaru dan Gerai Pisang Goreng P-Man di Banjarmasin, mendatangkan keuntungan superbesar hingga dia mampu terus menerus membayar fee bulanan investor yang jumlahnya kian banyak dan majemuk.

Semua orang baru tersentak ketika Agustus lalu pembayaran fee macet. Dan semestinya aparat berwenang tak perlu menunggu lagi untuk terlibat dalam perkara ini. Apalagi, seperti yang dikatakan Kapolda Kalsel Brigjen Untung S Radjab, bisnis investasi tersebut terindikasi bermasalah. Kalau tidak mendapatkan Lihan dan ‘memaksanya’ menjelaskan bagaimana sejatinya bisnis yang dikelolanya tersebut.

Dan rasanya sudah cukup seorang investor yang meninggal dunia serta seorang lagi stroke karena stres akibat tak kuasa menghadapi persoalan dari macetnya fee bisnis ala Lihan. Tidak usah menunggu hingga perkara ini meledak, karena dampaknya akan sangat luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: